MENUMBUHKAN SEMANGAT MENGEMBANGKAN PELUANG WIRAUSAHA

Sebagai negara sedang berkembang, Indonesia termasuk masih kekurangan wirausahawan. Hal ini dapat dipahami, kerena kondisi pendidikan di Indonesia masih belum menunjang kebutuhan pembangunan sektor ekonomi. Perhatikan, hampir seluruh sekolah masih didominasi oleh pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran yang konvensional. Mengapa hal itu dapat terjadi? Di satu sisi institusi pendidikan dan masyarakat kurang mendukung pertumbuhan wirausahawan. Di sisi lain, banyak kebijakan pemerintah yang tidak dapat mendorong semangat kerja masyarakat, misalkan kebijakan harga maksimum beras, maupun subsidi yang berlebihan yang tidak mendidik perilaku ekonomi masyarakat.

   Sebagian besar pendorong perubahan, inovasi dan kemajuan suatu negara adalah para wirausahawan. Wirausahawan adalah seorang yang menciptakan sebuah bisnis yang berhadapan dengan resiko dan ketidakpastian bertujuan memperoleh profit dan mengalami pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi kesempatan dan memanfaatkan sumber daya yang diperlukan. Dewasa ini banyak kesempatan untuk berwirausaha bagi setiap orang yang jeli melihat peluang bisnis tersebut. Karier kewirausahaan dapat mendukung kesejahteraan masyarakat serta memberikan banyak pilihan barang dan jasa bagi konsumen, baik dalam maupun luar negeri. Meskipun perusahaan raksasa lebih menarik perhatian publik dan sering kali menghiasi berita utama, bisnis kecil tidak kalah penting perannya bagi kehidupan sosial dan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

      Oleh karena itu pemerintah mengharapkan para sarjana yang baru lulus mempunyai kemampuan dan keberanian untuk mendirikan bisnis baru meskipun secara ukuran bisnis termasuk kecil, tetapi membuka kesempatan pekerjaan bagi banyak orang. Pihak perguruan tinggi bertanggung jawab dalam mendidik dan memberikan kemampuan dalam melihat peluang bisnis serta mengelola bisnis tersebut serta memberikan motivasi untuk mempunyai keberanian menghadapi resiko bisnis. Peranan perguruan tinggi dalam memotivasi para sarjananya menjadi young entrepreneurs merupakan bagian dari salah satu faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan. Menurut Thomas Zimmerer dalam bukunya, ada 8 faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan antara lain sebagai berikut :

1. Wirausahawan Sebagai Pahlawan.

   Faktor diatas sangat mendorong setiap orang untuk mencoba mempunyai usaha sendiri karena adanya sikap masyarakat bahwa seorang wirausaha dianggap sebagai pahlawan serta sebagai model untuk diikuti. Sehingga status inilah yang mendorong seseorang memulai usaha sendiri.

2. Pendidikan Kewirausahaan.

   Pendidikan kewirausahaan sangat populer di banyak akademi dan universitas di Amerika. Banyak mahasiswa semakin takut dengan berkurangnya kesempatan kerja yang tersedia sehingga mendorong untuk belajar kewirausahaan dengan tujuan setelah selesai kuliah dapat membuka usaha sendiri.

3. Faktor ekonomi dan Kependudukan.

   Dari segi demografi sebagian besar entrepreneur memulai bisnis antara umur 25 tahun sampai dengan 39 tahun. Hal ini didukung oleh komposisi jumlah penduduk di suatu negara, sebagian besar pada kisaran umur diatas. Lebih lagi, banyak orang menyadari bahwa dalam kewirausahaan tidak ada pembatasan baik dalam hal umur, jenis kelamin, ras, latar belakang ekonomi atau apapun juga dalam mencapai sukses dengan memiliki bisnis sendiri.

4. Pergeseran ke Ekonomi Jasa

   Di Amerika pada tahun 2000 sektor jasa menghasilkan 92% pekerjaan dan 85% GDP negara tersebut. Karena sektor jasa relatif rendah investasi awalnya sehingga untuk menjadi populer di kalangan para wirausaha dan mendorong wirausaha untuk mencoba memulai usaha sendiri di bidang jasa.

5. Kemajuan Teknologi.

   Dengan bantuan mesin bisnis modern seperti komputer, laptop, notebook, mesin fax, printer laser, printer color, mesin penjawab telpon, seseorang dapat bekerja dirumah seperti layaknya bisnis besar. Pada zaman dulu, tingginya biaya teknologi membuat bisnis kecil tidak mungkin bersaing dengan bisnis besar yang mampu membeli alat-alat tersebut. Sekarang komputer dan alat komunikasi tersebut harganya berada dalam jangkauan bisnis kecil.

6. Gaya Hidup Bebas.

   Kewirausahaan sesuai dengan keinginan gaya hidup orang Amerika yang menyukai kebebasan dan kemandirian yaitu ingin bebas memilih tempat mereka tinggal dan jam kerja yang mereka sukai. Meskipun keamanan keuangan tetap merupakan sasaran penting bagi hampir semua wirausahawan, tetapi banyak prioritas lain seperti lebih banyak waktu untuk keluarga dan teman, lebih banyak waktu senggang dan lebih besar kemampuan mengendalikan stress hubungan dengan kerja. Dalam penelitian yang telah dilakukan bahwa 77% orang dewasa yang diteliti, menetapkan penggunaan lebih banyak waktu dengan keluarga dan teman sebagai prioritas pertama. Menghasilkan uang berada pada urutan kelima dan membelanjakan uang untuk membeli barang berada pada urutan terakhir.

7. E-Commerce dan The World-Wide-Web

   Perdagangan on-line tumbuh cepat sekali, sehingga menciptakan perdagangan banyak kesempatan bagi wirausahawan berbasis internet atau website. Data menunjukkan bahwa 47% bisnis kecil melakukan akses internet sedangkan 35% sudah mempunyai website sendiri. Faktor ini juga mendorong pertumbuhan wirausahawan di beberapa negara.

8. Peluang Internasional.

   Dalam mencari pelanggan, bisnis kecil kini tidak lagi dibatasi dalam ruang lingkup Negara sendiri. Pergeseran dalam ekonomi global yang dramatis telah membuka pintu ke peluang bisnis yang luar biasa bagi para wirausahawan yang bersedia menggapai seluruh dunia. Kejadian dunia seperti runtuhnya tembok Berlin, revolusi di negara-negara baltik UniSoviet dan hilangnya hambatan perdagangan sebagai hasil perjanjian Masyarakat Ekonomi Eropa, telah membuka sebagian besar pasar dunia bagi para wirausahawan. Peluang Internasional akan terus berlanjut dan tumbuh dengan cepat pada abad ke 21.

   Faktor yang mendukung pembahasan ini adalah faktor Pendidikan Kewirausahaan. Di luar negeri banyak universitas mempunyai suatu program khusus dalam mempelajari bidang kewirausahaan, sehingga ada suatu embrio young entrepreneur. Peranan perguruan tinggi hanya sekedar menjadi fasilitator dalam memotivasi, mengarahkan dan penyedia sarana prasarana dalam mempersiapkan sarjana yang mempunyai motivasi kuat, keberanian, kemampuan serta karakter pendukung dalam

mendirikan bisnis baru.

TEKNIK MENGELOLA KELAS YANG DAMAI

ADA ribuan buku telah ditulis tentang bagaimana sesungguhnya sebuah proses belajar-mengajar harus dikelola. Ada jutaan pengalaman di pikiran dan tindakan jutaan guru yang selalu dibagi kepada setiap siswa dalam proses belajar sehari-hari. Ada begitu banyak kesadaran yang mulai tumbuh untuk belajar dari hal-hal yang dianggap salah ketika kita mengajarkan sesuatu terhadap para siswa.

Pendek kata, cara belajar dan mengajar memang selalu menarik untuk dikaji dan dilihat, karena belajar merupakan kesadaran alami yang dimiliki setiap insan yang diberi akal dan pikiran oleh Yang Maha Berpikir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam tradisi pendidikan Islam, ada satu kitab yang secara fenomenal menjadi rujukan sepanjang zaman tentang tatacara belajar dan menuntut ilmu, yaitu kitab Ta’lim Al-Muta’allim yang jika diterjemahkan secara literal dapat berarti ‘penuntut ilmu tentang cara belajar’.  Hampir semua pesantren salafi di Indonesia mengajarkan kitab ini kepada para santrinya, namun elaborasi terhadap kitab ini dalam ranah pendidikan modern masih jarang dilakukan.

Karena itu, ketika semua orang gemar dan senang mengutip tentang teknik pengelolaan kelas, teknik belajar-mengajar secara efektif dan menyenangkan, serta mempelajari beragam strategi pembelajaran, namun ada satu landasan teologis dalam belajar yang kurang diperhatikan dalam proses belajar mengajar, yaitu soal niat.

Enam prinsip

Syeik Al-Zarnuji pengarang kitab Ta’lim Al-Muta’allim kerap menyebut fenomena kegagalan siswa dan guru dalam proses belajar-mengajar karena ketiadaan motivasi yang konsisten.  Konsistensi niat dalam belajar merupakan landasan utama terjadinya proses belajar-mengajar yang efektif dan menyenangkan.

Kesadaran ini perlu diulang dan diperbaharui setiap saat agar niat belajar menjadi sandaran untuk beribadah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Sama seperti ibadah salat, puasa, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji, niat harus selalu dikelola dalam bentang kesadaran manusia yang cenderung berubah setiap saat.

Dalam pendidikan modern, sebenarnya elaborasi soal niat banyak disamakan dengan teori motivasi, tetapi lebih kepada aspek psikologis tinimbang teologis. Perlu ada cara menanamkan kesadaran tentang pentingnya niat belajar dalam proses belajar-memgajar secara berulang-ulang, sama seperti niat salat yang selalu dilakukan 5 kali sehari.

Dalam praktik sederhana, guru harus memiliki teknik dan cara untuk memotivasi siswa setiap saat dan berusaha mengingatkan para siswa mereka tentang konsekuensi salah niat dalam belajar yang dapat menyebabkan kegagalan. Niat sangat berkaitan erat dengan sikap. Jika sikap merupakan target pertama proses pendidikan kita, melibatkan siswa sebanyak mungkin dalam mendesain kebutuhan kurikulum berbasis standar pengetahuan dan keingintahuan siswa ialah tuntutan yang tidak bisa dihindari setiap guru.

Susan M Drake dan Rebecca C Burns dalam Meeting Standards Through Integrated Curriculum (2004) menyebutnya sebagai “Students as standards-based curriculum designers”.

Belajar dari pengalaman Sekolah Sukma Bangsa, secara konseptual proses pengembangan kemampuan guru paling tidak didasarkan pada sedikitnya enam prinsip.

Pertama, manajemen sekolah harus senantiasa berusaha menumbuhkan kesadaran dan minat di kalangan guru untuk terus-menerus belajar agar mereka dapat merespons tuntutan (standar) profesionalitas dan dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang berjalan secara dinamis.

Kedua, proses pembelajaran merupakan kunci utama untuk meraih hasil pendidikan yang optimal.

Oleh sebab itu, penting bagi setiap sekolah untuk memberikan prioritas pada proses belajar mengajar yang bermutu.

Penguasaan tentang bidang studi yang diajarkan (kompetensi) dan keragaman pendekatan pembelajaran, termasuk metode, merupakan bagian yang menyatu dalam setiap upaya untuk meningkatkan kemampuan profesional guru.

Ketiga, interaksi antara guru dan murid di dalam proses pembelajaran merupakan bagian yang menentukan pembelajaran yang efektif.

Keberhasilan murid dalam memahami atau menguasai apa yang disampaikan guru dalam pembelajaran (konsep atau bahan ajar) tidak dapat dipisahkan dari kemampuan guru dalam mengomunikasikannya.

Untuk itu, diperlukan kemampuan atau keterampilan guru berkomunikasi secara efektif dalam menyelenggarakan pembelajaran yang bermutu.

Keempat, murid sebagai subjek dari pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dicirikan atau mensyaratkan adanya peran serta aktif dari murid dalam pembelajaran. Kemampuan guru untuk mendorong para murid aktif dalam proses pembelajaran menjadi faktor penting dalam menciptakan pembelajaran yang bermutu. Untuk itu diperlukan kemampuan guru dalam menerapkan dan mengembangkan pendekatan-pendekatan partisipatif (active learning).

Kelima, kreativitas guru dalam mengupayakan pembelajaran yang efektif dan mengembangkan pendekatan partisipatif merupakan sumber utama dalam mengembangkan inovasi di sekolah. Upaya-upaya kreatif guru dalam menyelenggarakan pembelajaran merupakan bahan belajar bersama untuk melahirkan inovasi pendidikan di lingkungan Sekolah, dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber belajar bagi guru-guru di sekolah lain. Oleh sebab itu, pengembangan profesionalitas guru juga diarahkan untuk menumbuhkembangkan kemampuan meneliti pembelajaran yang hasilnya sebagai bahan bagi pengembangan pembelajaran (kreativitas atau inovasi).

Keenam, dukungan atau peran serta masyarakat dan empati terhadap lingkungan sosiokultural, termasuk kepentingan masyarakat setempat yang terkait dunia persekolahan, merupakan faktor penting untuk menciptakan kesinambungan dari program peningkatan profesionalitas guru.

Untuk itu, pemberdayaan terhadap forum sekolah dan masyarakat (komite sekolah), sebagai wadah peran serta masyarakat bagi peningkatan mutu sekolah-sekolah setempat, merupakan bagian yang juga penting.

Cara memotivasi

Selain keenam prinsip di atas, mengelola kelas yang damai juga memerlukan pendekatan yang kreatif dalam setiap prosesnya. Dennis Sale, dalam buku Creative Teaching: An Evidence-Based Approach (2015), secara sederhana memberikan contoh menarik bagaimana cara memotivasi siswa dalam proses belajar-mengajar yang damai.

Pendekatan yang dilakukan dalam mengelaborasi persoalan motivasi dirangkai secara apik dalam skema SHAPE, sebuah pendekatan yang dimulai dari (S)tories, (H)umor, (A)ctivities, (P)resentation Style, dan (E)xample.

Mengelola kelas yang damai bagi guru harus dimulai dari sebuah cerita. Melakukan pengalaman bercerita ini di awal setiap materi yang akan diberikan, karena cerita secara psikologis merupakan cara efektif untuk membangun ingatan dan motivasi anak untuk belajar.

Telling the stories harus menjadi kesadaran kreatif guru pada setiap kali proses belajar-mengajar dimulai.

Jangan lupa, dalam setiap cerita, sisipkan humor-humor tertentu yang dapat melibatkan kesadaran psikologis siswa untuk berbagi keceriaan.

Guru yang kreatif harus tidak kehilangan akal untuk menyisipkan sense of humor dalam proses belajar mengajarnya.

Kelas yang damai juga membutuhkan serangkaian aktivitas kelas yang melibatkan seluruh siswa dalam membangun makna dari setiap konsep dan teori ilmu yang sedang diajarkan. Aktivitas dimaksud bisa jadi dalam bentuk kerja kelompok, bermain peran, atau peer based learning activities yang memasangkan siswa dengan siswa lain secara bergantian untuk merangkai makna dari konsep atau teori yang sedang diajarkan.

Harus diingat, bahwa seberapa banyak aktivitas yang akan melibatkan siswa, itu sangat tergantung dari cara guru mempersiapkan bahan ajar dalam sebuah langkah presentasi materi yang sistematis dengan gaya bahasa dan bahasa tubuh yang juga dinamis dan efektif. Perlu latihan bertahun-tahun dalam mengembangkan kemampuan presentasi yang efektif, sebelum pada akhirnya seorang guru juga harus menyiapkan begitu banyak contoh nyata dari materi, konsep, dan teori yang diajarkannya. Selamat mencoba.

Ahmad Baedowi ;   Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta

DOSIS MINIMAL KITA UNTUK MENGINGAT MATI DALAM ISLAM

“Kapan terakhir anda ingat mati?”
“Oya, kapan yah…?” Jawab seorang wakil rakyat, yang kebetulan hadir.
“Hm… sebulan yang lalu, Pak! Tetangga saya meninggal.” Kata pensiunan.
“Baru minggu kemarin Pak, diajak ziarah kubur ama pak ustadz”, Kata yang lain.
“Kalau saya baru kemarin, lihat orang meninggal di jalan”. Jawab sopir angkot.
Kalau anda sendiri (pembaca), kapan terakhir ingat mati?

Sahabat, ingat mati itu bukan hanya saat tetangga anda meninggal. Juga bukan hanya saat ziarah kubur, atau melewati pekuburan. Juga bukan hanya saat anda melihat sebuah kecelakaan. Kalau kita ingat mati hanya pada event-event tersebut, dosisnya masih amat-sangat kurang.

Terus, berapa dosis ingat mati yang disarankan?
Yang jelas bukan tiap bulan, atau tiap minggu, atau tiap 3 hari! Bahkan bukan tiap hari… Dosis yang tepat MINIMAL 40 KALI sehari!
Lho, kok banyak amat?! Anda kaget?

Kalau anda terkejut dengan dosis tersebut, mungkin anda belum memahami dan menyadari makna di balik rutinitas hidup. Hari ini saatnya kita mulai menyadari dan memahaminya, insya_allah lebih bermanfaat.

Ingat Mati 40 Kali Sehari!

Dari mana dapat angka 40? Begini penjelasannya…
2 Menjelang dan Setelah Tidur + 5 Saat Makan + 6 Saat Berkendara + 27 Saat Shalat. Pas 40!

2 Tablet “Ingat Mati” Menjelang dan Setelah Tidur

ingat mati atau dzikrul maut renungan islam
Doa menjelang tidur

Menjelang tidur, kita membaca:
“Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan mati.” Ini kalau kita panjatkan dan hayati dengan baik, maka ini merupakan sebuah dzikrul maut, atau ingat mati. Jika menjelang tidur anda baca ini, tapi tidak disertai dengan ingat mati, maka efeknya kurang bisa memperbaiki hidup anda. Mulailah malam ini “ingat mati” saat membacanya.

Lalu setelah bangun tidur, kita membaca:

dzikrul maut renungan islam
Doa bangun tidur

“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku setelah mematikan aku dan kepadaNya kami kembali.” Ini juga merupakan dzikrul maut, atau ingat mati. Sudahkah kita sadari makna ritual tidur kita dengan “ingat mati”? Kalau belum, saatnya dimulai…

5 Tablet Saat Makan
Saat makan kita baca doa “Allohumma baariklanaa fiimaa rozaqtana wa qinaa adzaabannaar.” Nah, dalan bacaan wa qinaa adzaabannar terkandung dzikrul maut karena kalau ingat hari akhir berarti ingat hari setelah kematian. Manusia dalam sehari kurang lebih makan 5 kali (bukan makan besar saja yang dihitung).


6 Tablet “Ingat Mati” Saat Berkendara

dzikrul maut renungan islami doa naik kendaraan
Doa naik kendaraan

“Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami tidak kuasa mengendalikannya, dan kepada Allah kami akan kembali.” Doa harian ini juga lagi-lagi mengandung muatan dzikrul maut, atau ingat mati! Iya, kan?
Berapa kali sehari anda menaiki kendaraan? Sejumlah itulah anda harus MERASA minum “tablet ingat mati”. Kita naik kendaraan rutin saat berangkat kerja, pulang kerja dan untuk keperluan lainnya. Saya ambil rata-rata 6 kali naik kendaraan dalam sehari.

27 Tablet “Ingat Mati” Saat Shalat
Ingat mati waktu shalat, adalah perintah Allah dalam Al Baqarah 45:

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Ada 3 bacaan shalat yang mengantar kita pada dzikrul maut:
1. Ingat mati saat membaca doa iftitah
“Inna shalatii wanusukii wamahyaaya wa mamaati lillahi rabbil alamin” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya bagi Allah tuhan semesta alam”

2. Ingat mati saat membaca Al Fatihah
“Maaliki yaumiddiin” Yang menguasai hari pembalasan.

3. Ingat mati saat membaca doa sebelum salam
doa sebelum salam, dzikrul maut renungan islam“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati dan dari fitnah kejahatan Dajjal.”

Dalam shalat Isya ada 6 kali dzikrul maut, dalam shalat Subuh 4 kali, shalat Dhuhur 6 kali, shalat Ashar 6 kali dan dalam shalat Maghrib 5 kali. Totalnya ada 27 kali dzikrul maut (ingat mati) saat kita menjalankan shalat fardhu.

Jadi, DOSIS MINIMAL ingat mati dalam sehari semalam adalah 40 kali! Apakah sudah kita sadari ini?

Dosis Ingat Mati Tambahan
Jika anda melakukan shalat-shalat sunnah, berarti anda telah menambahkan dosis. Atau jika ada musibah apa saja baik berupa kekurangan, kecelakaan, ketakutan, kematian dll kita juga membaca “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” yang berarti: sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan akan kembali kepadaNya. Ini pun merupakan dzikrul maut. Ucapan tersebut bukan hanya untuk kematian, melainkan untuk segala jenis musibah.

Nah, dosis tambahan lainnya adalah saat ada orang meninggal, atau saat ziarah kubur. Ini terjadi sangat temporar, tidak rutin. Jika anda hanya menggunakan kedua event ini untuk “ingat mati” maka dosisnya sungguh amat sangat tidak memenuhi syarat.

Mulai hari ini, mari kita sadari… dan optimalkan “tablet ingat mati” 40 kali sehari!

KEJAMNYA WAKTU SUBUH

Saya yakin di antara kita sudah mengetahui keistimewaan waktu Subuh. Hari ini ada baiknya kita melihat waktu Subuh dengan kacamata yang lain, yaitu dari bahaya waktu Subuh bila kita tidak dapat memanfaatkannya.

Allah bersumpah dalam Al Fajr : “Demi fajar (waktu Subuh)”. Kemudian dalam Al Falaq Allah mengingatkan: “Katakanlah! aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh”.

Ada apa dibalik waktu Subuh? Mengapa Allah bersumpah demi waktu Subuh? Mengapa harus berlindung kepada yang menguasai waktu Subuh? Apakah waktu Subuh sangat berbahaya?

Ya, ternyata waktu Subuh benar-benar sangat berbahaya!
Waktu Subuh lebih kejam dari sekawanan perampok bersenjata api.
Waktu Subuh lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan.
Waktu Subuh lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin…

Jika ada sekawanan perampok menyatroni rumah anda, dan mengambil paksa semua barang anda. Emas dan semua perhiasan di gondolnya. Uang cash puluhan juta ditilepnya. Laptop, yang berisi data-data penting anda juga diembatnya. Eh, mobil yang belum lunas juga digasaknya. Bagaimana rasa pedih hati anda menerima kenyataan ini?

Ketahuilah, bahwa waktu Subuh lebih kejam dari perampok itu. Karena jika anda tertindas sang waktu Subuh sampai melalaikan shalat fajar, maka anda akan menderita kerugian lebih besar dari sekedar laptop dan mobil. Anda kehilangan dunia dan segala isinya. Ingat, “Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya” (HR Muslim).

Waktu Subuh juga lebih menyengsarakan dari sekedar kemiskinan dunia. Karena bagi orang-orang yang tergilas waktu Subuh hingga mengabaikan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka hakikatnya, merekalah orang-orang miskin sejati yang hanya mendapatkan upah 1/150 (0,7%) saja pahala shalatnya.

“…dan barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka ia bagaikan shalat semalam suntuk” (HR Muslim). Shalat semalam suntuk adalah shalat yang dikerjakan mulai dari tenggelamnya matahari sampai terbit fajar. Fantastis! Shalat selama sepuluh jam…, atau kurang lebih 150 kali shalat! Betapa agung fadilah shalat Subuh berjamaah ini. Betapa malangnya orang yang tergilas waktu Subuh, orang-orang yang mengabaikan shalat subuh berjamaah di masjid.

Waktu Subuh juga lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin. Mengapa demikian? Tahukah anda bahwa nabi menyetarakan dengan orang munafik bagi yang tidak mampu melaksanakan shalat Subuh berjamaah?

“Sesungguhnya tiada yang dirasa berat oleh seorang munafik, kecuali melaksanakan shalat Isya dan shalat Subuh. Sekiranya mereka tahu akan keagungan pahalanya, niscaya mereka bakal mendatanginya (ke masjid, shalat berjamaah) sekalipun harus berjalan merangkak-rangkak” (HR Bukhari Muslim).

Orang yang tergerus waktu Subuh hingga tak mampu mendatangi masjid untuk shalat berjamaah adalah orang yang dalam keadaan bahaya, karena disetarakan dengan orang munafik. Padahal, ancaman bagi orang munafik adalah neraka Jahannam. “Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam” (An Nisa:140).

Bukankah Jahannam lebih berbahaya dari sekedar kobaran api yang disiram bensin?

Nah, agar tidak merasakan tindasan waktu Subuh yang lebih kejam dari perampokan, agar tidak terkena gilasan waktu Subuh yang lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan, dan agar tidak tertelan gerusan waktu Subuh yang lebih berbahaya dari kobaran api, maka: “Katakanlah! aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh” (Al Falaq:1). Yaitu dengan memanfaatkan waktu Subuh sebaik-baiknya. Lakukan shalat sunnah (shalat fajar) dan shalat berjamaah di masjid. ***

GURU, KEGURUAN DAN IJAZAH

PADA 13 April 2017, laman Universitas Tampere, Finlandia, memuat berita pendek mengenai guru dan pendidikan di RI. Karena dipandang ‘mengejutkan’ dan ‘tidak wajar’ dari sisi diplomasi, KBRI di Finlandia meminta penjelasan mengenai berita itu. Sebagai guru yang menjadi narasumber dalam berita itu, saya melihat dua hal yang diperkarakan. Pertama pernyataan saya bahwa ‘mungkin saja untuk membeli ijazah magister (di Indonesia) dan bahwa menjadi guru ‘(boleh jadi) bukan pilihan utama atau mungkin saja sebuah kebetulan (di Indonesia)’.

Cermin retak

Dalam hal ini, sebagai representasi pemerintah dan negara, KBRI dengan bijak telah menunaikan tugasnya. Berlandaskan kesadaran bahwa jual-beli ijazah praktik yang dikutuk di seluruh dunia, pemerintah RI telah berusaha mengadiministrasikan pemberantasannya. Ada dua pepatah lama yang membuat saya terus bertanya-tanya dalam hati, terutama dari segi etika kebangsaan, karena pernyataan saya itu dikutip dan disampaikan di negeri orang. Pertama ‘buruk rupa cermin dibelah’ dan kedua ‘menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri’. Namun, renungan metakognitif itu bermuara pada kesadaran yang mungkin lebih menggelisahkan banyak orang. Jika pendidikan di RI hendak dimajukan, setiap perkara publik harus dipublikkan, sebagai prasyarat tak terelakkan dari demokrasi. Menyembunyikan luka atau menutup borok merupakan tindakan eskapis; ketika membuka, membersihkan, dan mengobatinya merupakan laku kuratif.

Tidak pula saya menemukan bahwa pernyataan sadar saya tentang pendidikan di RI karena gejala masokisme atau abnormalitas psikologis lainnya. Sebaliknya, itu merupakan buah pengalaman menjadi guru dalam jangka waktu cukup panjang. Kesimpulan reflektif saya bahwa perkara guru dan keguruan belum berhasil diurus secara benar tetap sama.

Wawancara dengan jurnalis Universitas Tampere, terlepas dari kecerdasan jurnalistik atau perkara etis dalam menuliskan, pada intinya bukan hendak membelah cermin atau menepuk air di dulang. Justru, supaya rupa bisa dilihat, becermin hendaklah dalam terang. Yang saya saksikan dan alami, pendidikan Finlandia merupakan salah satu sumber terang.

Mungkin lebih mudah dan menarik jika kita membacanya menggunakan alegori Plato tentang manusia gua. Dalam kiasan ini, konon, sejumlah orang terjebak selama bertahun-tahun dalam dilema kegelapan. Karena ketiadaan cahaya yang memadai, mereka sampai pada reifikasi keyakinan bahwa apa yang bisa mereka lihat, seperti bayang-bayang, merupakan kebenaran. Teramat sulit bagi mereka untuk membayangkan adanya jenis kebenaran lain, apalagi menerimanya. Ketika ada di antara mereka yang sampai pada ikhtiar mencari kebenaran yang lebih hakiki atau sedemikian rupa terpapar pada kenyataan yang berbeda dari apa yang sudah mengeras dalam benak mereka, ketegangan pun tak terelakkan: apakah akan menerima ‘kebenaran baru’ dan bermandikan cahaya atau menolak keluar gua dan mengutuk cahaya sebagai representasi kesesatan?

Guru mekanis

Secara akademis, berefleksi dan meriset merupakan cara becermin sebelum memperbaiki diri. Akal budi yang terbuka merupakan cahaya yang memungkinkan cermin bisa dipakai. Terkait pendidikan RI, harus diakui kita ternyata tak cukup becermin dan gagap dengan silau cahaya.

Dalam perkara guru dan keguruan, UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen lebih banyak mengurus soal legalitas dan administrasi. Tekanan utama pada standar dan standardisasi, yakni sarat dengan gagasan ‘apa’ dan ‘bagaimana’, dan miskin gagasan ‘kenapa’. Sebagai contoh, mari kita lihat Pasal 1 UU No 14/2005 yang berisi berbagai definisi istilah kunci terkait guru dan keguruan. Ada kata ‘profesional’, ‘kualifikasi’, ‘kompetensi’, dan ‘sertifikasi’ dan/atau ‘sertifikat’. Selain kata profesional, semua konsep ini secara substansi berhubungan hal mekanis, mekanisasi, dan tentu ‘mesin’.

Tetapi, konsep profesional pun sebenarnya diartikan mekanis, karena “profesional ialah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi” (ayat 4). Kesimpulan saya berdasarkan pembacaan terhadap produk kebijakan pendidikan ini dan bisa dibuktikan lebih jauh dalam riset lebih mendalam, bahwa guru diposisikan sebagai ‘mesin’ pendidikan. Jika demikian halnya, istilah ‘pendidik’ dan ‘pendidikan’ yang diklaim lebih humanis daripada istilah ‘pengajar’ atau ‘pengajaran’ masih bersifat retoris, belum esensial. Dalam posisi yang mekanis itu, para guru sebenarnya seperti manusia gua yang dikondisikan untuk menerima standar dan standardisasi sebagai simpul kebenaran. Mendidik bukanlah atau tidak perlu sampai menjadi perkara ‘kenapa’, sebagai sesuatu yang membumi dalam kesadaran batiniah dan sosiokultural. Lebih lanjut, sebagai alat untuk memastikan standardisasi, pemerintah memperkenankan lembaga pendidikan guru menggunakan instrumen high-stake test dan menerbitkan ijazah. Niatnya tentu saja supaya terlahir guru-guru yang cakap dalam pekerjaannya.

Namun, kedua alat ini hakikinya juga ‘mekanistis’. Secara kuantitatif, seseorang yang berijazah guru boleh jadi dipandang layak untuk bekerja sebagai guru. Akan tetapi, secara kualitatif belum tentu demikian. Di sini makna anekdotal ‘membeli ijazah’ menjadi mungkin terjadi. Pembuktian di lapangan justru akan lebih sahih. Patokan yang lebih terterima, sejauh yang saya pahami dari dialog dengan cukup banyak guru dan dosen di Finlandia, ialah menjadi guru berakar dari pandangan hidup. Orang yang bekerja karena panggilan nurani tidak melulu bertindak demi kepentingan pribadi (self-interest). Sebaliknya, tindakan pribadi maupun sosialnya juga berdasar pada pertimbangan adanya ‘yang lain’ atau altruisme autentik dalam sebuah konteks sosial. Di Inggris, Julian LeGrand (2003), bekas penasihat mantan PM Inggris, Tony Blair, mengemukakan betapa pentingnya konsep self-interest dan altruisme bersanding di hati para pelayan publik, termasuk di sekolah-sekolah.

Sebagai salah satu solusi, oleh karena itu, ada kata kunci penting PP No 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 29 ayat (1), bahwa pendidik adalah agen pembelajaran. Terlepas dari kenapa konsep agensi ini muncul, pandangan bahwa guru adalah agen pembelajaran, hemat saya, sangatlah tepat dan jalan keluar dari kutukan standardisasi. Logikanya: guru yang menjadi agen pembelajaran juga agen dirinya sendiri. Dalam hal ini, profesi keguruan bukan saja pilihan, tetapi ia berakar dalam pandangan hidup. Seperti dalam konsep agensi kemanusiaan dikemukakan Anthony Giddens (1984), Margaret Archer (2000) dan Hanan Alexander (2005), apa yang dilakukan manusia dalam tindakannya bukanlah pilihan serampangan. Tindakan berakar dari yang disebut kebermaknaan, yakni dari mana kehendak untuk bertindak bertumbuh. Supaya tumbuh, agensi kemanusiaan mensyaratkan kebebasan, peluang untuk melakukan penalaran moral dan berekspresi, dan pembelajaran yang memungkinkan terbangunnya kemampuan penilaian diri. Ini, berkebalikan dari standardisasi mekanis seperti dalam sistem pendidikan kita.

Dalam contoh yang sederhana bisa dilihat terkait dengan bagaimana sikap bertanggung jawab pada seorang guru mungkin muncul. Dalam kajian etika, kebertanggungjawaban tak mungkin dibangun dalam keterkungkungan, karena bertanggung jawab itu merupakan wujud dari adanya kebebasan, yakni kebebasan untuk bertanggung jawab. Dalam model pendidikan guru standaris-mekanis, sebaliknya, kebertanggungjawaban merupakan perkara menghapal definisi atau apa kata UU tentang artinya. Padahal, definisi atau penjelasan resmi bersifat diskursif, bukan karena pemaknaan eksistensial, dan cenderung mengandung paksaan normatif.

Sebagai penutup, hemat saya, cacat dan dampak dari kebijakan publik mengenai guru, keguruan, dan ijazah bukanlah hal tabu dibicarakan. Daripada memperkarakan sisi politis dan bisnisnya, berita di laman Universitas Tampere hendaklah diambil sebagai pijakan bagi deliberasi yang terbuka, faktual dan konstruktif. Wallaahu a’lam bishshawaab.

 

Khairil Azhar  ;   Peneliti Pendidikan pada Yayasan Sukma, Jakarta

PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN

Apa itu Kewirausahaan?

“Kewirausahaan merupakan sebuah ilmu, seni, dan keterampilan untuk mengelola semua keterbatasan sumberdaya, informasi, dan dana yang ada guna mempertahankan hidup, mencari nafkah, atau meraih posisi puncak dalam karir”

 

Seorang Wirausaha (Enterpreneur) akan menggeluti usaha tidak sekedar ala kadarnya, akan tetapi dengan keberanian & kegigihan sehingga usahanya akan tumbuh. Bersahabat dengan ketidakpastian, Dan menjalankan usaha yang real , bukan spekulatif.

Untuk mengetahui apa itu usaha real & Spekulatif, mari simak perbedaannya berikut :

  1. Usaha Nyata (Real) :
    • Didasarkan motif untuk melayani dan memperoleh kemandirian
    • Dengan ketulusan, kerja keras dan inovasi
    • Bukan jalan pintas, cara cepat menjadi kaya
    • Membangun secara bertahap
    • Menjaga nama baik, membangun reputasi
    • Bukan sekedar passive income, tetapi real
    • Pendidikan, persahabatan, spiritualitas sangat penting.
  2. Usaha Spekulatif :
    • Didasarkan motif ingin cepat kaya
    • Mengedepankan cara-cara instant
    • Mendewa-dewakan “passive income”
    • Tidak peduli kerugian pihak lain, yang penting “saya untung”
    • Pendidikan dan kehidupan spiritual tidak dianggap penting

Kata Kuncinya dari masing-masing usaha yaitu “Tumbuh”

Ingatlah tujuan hidup kita bukanlah menjadi kaya melainkan tumbuh.
Untuk tumbuh, Kita harus percaya, mau, mampu, dan dipelihara.
Kaya adalah akibat, Bukan tujuan, kaya yang bermartabat, bukan sekedar kaya, melainkan kaya melalui proses kemandirian (kewirausahaan)

Untuk menjadi Seorang Enterpreneur harus punya mindset atau pola pikir cerdas, yaitu :

  • Action Oriented
  • Berpikir Simpel
  • Selalu Mencari Peluang Baru
  • Mengejar Peluang dengan Disiplin Tinggi
  • Hanya mengambil Peluang Terbaik
  • Fokus pada Eksekusi
  • Memfokuskan Energi setiap orang dalam bisnis
Dan Tips Praktis untuk menggeluti dunia Wirausaha sangatlah simpel, yaitu :

 

  • Modal utama berwirausaha bukanlah uang, melainkan keyakinan untuk tumbuh dan menang
  • Bersahabatlah dengan ketidakpastian
  • Buka pikiran Anda, pelajari hal-hal baru
  • Be ready, persiapkan diri Anda dengan baik
  • Bangunlah network selagi muda, dan jagalah kepercayaan

PENTINGNYA KEWIRAUSAHAAN

     Kewirausahaan merupakan komponen vital dalam pembangunan ekonomi. Jika Indonesia ingin maju seperti negara lain, maka pembangunan kewirausahaan harus dimulai dari sekarang. Untuk mengembangkan kewirausahaan, perlu disusun kurikulum yang memadai, mulai dari pendidikan usia dini sampai Perguruan Tinggi. Prinsipnya adalah mereka harus dibuat tertarik dan termotivasi, kedua mereka harus bisa dibuat melihat adanya kesempatan untuk bisnis yang menguntungkan (opportunity factors), ketiga, mereka harus memiliki beberapa keahlian seperti social skill, indutrial skill, organizasional skill dan strategic skill

 

     Pada awal abad 20, entrepreneurship atau kewirausahaan menjadi satu kajian hangat karena perannya yang penting dalam pembangunan ekonomi. Adalah Schumpeter (1934) yang mengatakan bahwa jika suatu negara memiliki banyak entrepreneur, negara tersebut pertumbuhan ekonominya tinggi, yang akan melahirkan pembangunan ekonomi yang tinggi. Jika suatu negara ingin maju, jumlah entrepreneurnya harus banyak. Enterprenuership is driving force behind economic growth. Kirzner mengatakan bahwa kewirausahaan merupakan bagian penting dalam pembangunan.

 

        Rasionalisasinya adalah jika seseorang memiliki kewirausahaan, dia akan memiliki karakteristik motivasi/mimpi yang tinggi (need of achievement), berani mencoba (risk taker), innovative dan independence. Dengan sifatnya ini, dengan sedikit saja peluang dan kesempatan, dia mampu merubah, menghasilkan sesuatu yang baru, relasi baru, akumulasi modal, baik berupa perbaikan usaha yang sudah ada (upgrading) maupun menghasilkan usaha baru. Dengan usaha ini, akan menggerakan material/bahan baku untuk “berubah bentuk” yang lebih bernilai sehingga akhirnya konsumen mau membelinya. Pada proses ini akan terjadi pertukaran barang dan jasa, baik berupa sumber daya alam, uang, sumber daya sosial, kesempatan maupun sumber daya manusia. Dalam ilmu ekonomi, jika terjadi hal demikian, itu berarti ada pertumbuhan ekonomi, dan jika ada pertumbuhan ekonomi berarti ada pembangunan.

 

        Dalam kasus negara, kita bisa belajar dari Jepang, dimana saat PD II, mereka hancur-hancuran. Namun karena accident tersebut, Bangsa Jepang justru lebih hebat dari sebelumnya karena setelah itu, pemerintah Jepang melakukan reformasi di segala bidang dengan dua pilar, yakni pembubaran konglomerasi dan UU anti monopoli.

 

       Di sektor pertanian, yang paling awal digarap adalah reformasi lahan pertanian. Sistem “tuan tanah” yang merupakan salah satu bentuk konglomerasi di bidang pertanian dihapus, dan para “tuan tanah” tersebut dilarang memiliki luas lahan yang terlalu besar. Tanah tersebut dipetak-petak, dan masing-masing lahan digarap oleh petani pemiliknya sendiri. Kalau sebelumnya seorang tuan tanah memiliki lahan sampai seluas 8000 ha, sekarang petani di Jepang memiliki luas lahan rata-rata 1,5 ha (kecuali petani di pulau Hokkaido). Kebijakan ini telah membawa dampak besar terhadap pembangunan ekonomi di Jepang.

 

      Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan”oleh perusahaan.

 

        Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi), membuat mahasiswa nggak enak pulang duluan. Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.

 

     Salah satu penyebab kegagalan dalam pencapaian pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi suatu negara karena tidak adanya entrepreneurship baik dalam level individu, organisasi dan masyarakat. Peneliti sebelumnya telah mengatakan, kewirausahaan sangat berperan dalam pembangunan ekonomi (Kirzner, 1973), merupakan a vital component of productivity and growth (Baumol, 1993), berperan dalam peningkatan investasi, new business creation (Gartner, 1985), memunculkan job training (Brown et al, 1976) dan home-base business (Spencer Hull, 1986), meningkatkan employment growth (Birch, 1981; 1987), penciptaan nasional identity & leadership (Bolton, 1971) dan bersama dengan kapasitas manajemen sangat menentukan kesuksesan usaha (farm performance) (Priyanto, SH, 2005). Schumpeter (1934) bahkan menyatakan bahwa enterprenuership is driving force behind economic growth, formulating new economic combination by (1) developing new products; (2) developing new sources of materials; (3) accumalating capital resources; (4) introducing new products and new production functions; and (5) reorganizing or developing a new industry.

 

        Kewirausahaan ternyata juga sangat berperan dalam perkembangan UKM. Penelitian terdahulu menunjukkan, kinerja industri kecil yang rendah disebabkan beberapa faktor antara lain rendahnya karakteristik kewirausahaan (poor entrepreneurial). Kewirausahaan menjadi “motor penggerak” yang berperan dalam pembangunan industri. Dalam proses industrialisasi diperlukan sikap kewirausahaan dalam pembangunan ekonomi (Anderson, 2002; Amstrong dan Taylor, 2000).

 

      Kewirausahaan juga bisa berpengaruh langsung terhadap kinerja usaha. Baum et al. (2001) mengatakan bahwa sifat seseorang (yang bisa diukur dari ketegaran dalam menghadapi masalah, sikap proaktif dan kegemaran dalam bekerja), kompetensi umum (yang bisa diukur dari keahlian berorganisasi dan kemampuan melihat peluang), kompetensi khusus yang dimilikinya seperti keahlian industri dan keahlian teknik, serta motivasi (yang bisa diukur dari visi, tujuan pertumbuhan dan self efficacy), berpengaruh secara positif terhadap pertumbuhan usaha. Hampir senada dengan Baum et al. (2001), Lee dan Tsang (2001) menyimpulkan bahwa elemen kewirausahaan seperti internal locus of control, need for achievement, extroversion, education experience dan self reliance mempengaruhi pertumbuhan usaha.

 

      Menurut ahli perilaku (behaviorits), entrepreneurship sangat berperan dalam kesuksesan seseorang (Kets de Vries, 1977). Seseorang yang memiliki kewirausahaan tinggi dan digabung dengan kemampuan manajerial yang memadai akan menyebabkan dia sukses dalam usahanya (Priyanto, 2006). Entrepreneurship juga berperan dalam mengembangkan seseorang sehingga memiliki keinginginan untuk memaksimalkan economic achievement (Mc Clelland, 1976) dan menyebabkan seseorang bisa tahan uji, bisa fleksibel, bisa dipercaya, bisa mengatasi masalah yang dihadapinya. Sementara itu Barkham, 1989; Pollock, 1989 dalam Ghosh (1999) mengatakan bahwa skill, attitude dan pencarian informasi pasar merupakan faktor yang memberikan kontribusi pada kesuksesan perusahaan.

 

    Ahli-ahli sosiologi mengatakan bahwa entrepreneurship berperan dalam mengintegrasikan, mengarbitrase dan mengatur subsistem dalam masyarakat dan ekonomi (Parsons and Smelser,1956). Mereka para entrepreneur merupakan agen perubahan dalam masyarakat dimana dia tinggal (Barth, 1967). Storey (1982) berpendapat bahwa entrepreneur memegang peranan sebagai kreator dalam persaingan dan penciptaan lapangan kerja, sebagai “benih” dimasa depan dan sebagai alternatif dalam hal menghubungkan the bureaucratic employeremployee. Sementara itu Hagen (1960) percaya bahwa entrepreneur mampu memotivasi masyarakat karena dia dipandang menjadi kaum elit karena kesuksesannya di dunia usaha. Entrepreneur bisa memberikan inspirasi bagi masyarakat.

 

        Kemiskinan sangat erat kaitannya dengan ketiadaan kewirausahaan. Oleh karena itu, keberadaan kewirausahaan mulai dari level individu, organisasi sampai masyarakat sangat terkait erat dengan miskin atau tidaknya masyarakat. Jika kewirausahaan tinggi, maka kemiskinan akan rendah.

Sumber : https://www.scribd.com/doc/261069901/pentingnya-kewirausahaan

PENGARUH SEBUAH PENGETAHUAN AKUNTANSI TERHADAP USAHA

Pendahuluan
 
       Wirausaha merupakan salah satu alternatif individu dalam memenuhi kebutuhan hidup baik bagi dirinya sendiri maupun keluarga. Diharapkan dalam melakukan kegiatan bisnis seseorang akan mendapatkan imbalan dari jerih payahnya yaitu berupa laba. Agar keuntungan dapat terlihat dengan jelas maka diperlukan laporan laba/rugi yang berfungsi sebagai komparasi antara anggaran dengan realisasi. Munculnya kegiatan bisnis dapat berasal dari keinginan seseorang untuk berwirausaha, seseorang yang memiliki naluri untuk membaca peluang yang ada di tengah-tengah masyarakat khususnya dalam bidang ekonomi.
     Seorang wirausaha sebaiknya memahami bagaimana pencatatan transaksi keuangan dan pelaporan akuntansi, karena kegiatan bisnis itu tidak hanya melakukan kegiatan untuk jangka waktu satu bulan, satu tahun, atau dua tahun saja tetapi bertahun-tahun. Jadi, tidak mungkin perusahaan akan mengingat semua transaksi yang terjadi dalam setiap kegiatan sebuah bisnis tanpa proses dan sistem pencatatan yang teratur dan sistematis, untuk itu dibutuhkan sistem akuntansi dalam sebuah bisnis. Kegunaan akuntansi sangat bervariasi, mulai dari sebagai alat hitung menghitung, sumber informasi dan pengambilan keputusan. Bila dihubungkan dengan para pelaku usaha, tampaknya pemahaman akuntansi masih digunakan sebagai alat hitung dalam artian untuk melakukan pencatatan pada saat terjadi transaksi penjualan dan pembelian, menghitung berapa kas masuk (cash in flow) dan kas keluar (cash out flow) dan laporan akuntansi sebagai sumber informasi dan pengambilan keputusan (Hendro, 2011:439).
    Para pengusaha sudah semakin menyadari bahwa informasi akuntansi khususnya informasi keuangan sangat penting. Memang tidak dapat disangkal bahwa sebagian besar informasi yang dibutuhkan pengusaha adalah informasi akuntansi (Al Haryono Jusup, 2005:3). Proses akuntansi pada akhirnya akan menghasilkan informasi akuntansi yang digunakan oleh manajemen untuk mengambil keputusan penting untuk kemajuan perusahaan. Manajemen membaca informasi akuntansi dalam bentuk laporan keuangan dan informasi kinerja keuangan lain. Informasi akuntansi berfungsi untuk mengkoordinasikan segala aktivitas perusahaan dan untuk mengukur kinerja perusahaan (Simamora, 2002:10).
     Berwirausaha merupakan suatu kegiatan yang banyak dilakukan oleh kalangan mahasiswa di Indonesia termasuk di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana saat ini. Hal ini ditunjukkan dengan banyak mahasiswa yang mulai membuka usaha di bidang produk kreatif, menjadi pedagang retail barang-barang fashion, serta membeli produk-produk franchise untuk dikelola sendiri. Namun, tidak semua mahasiswa yang telah menjalankan usaha ini, memahami pentingnya akuntansi untuk kelancaran bisnis mereka sehingga banyak kegiatan bisnis mereka yang berhenti di tengah jalan karena mereka merasa tidak pernah merasa mendapatkan laba dari usaha yang dijalankan. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya pemisahan antara uang pribadi dan uang yang digunakan untuk menjalankan usaha. Sebagian dari mahasiswa menjalankan bisnis mereka bersama-sama dengan modal bersama pula. Permasalahan yang timbul pada saat melakukan bisnis dengan sistem ini adalah apabila tidak ada pencatatan yang jelas atas modal awal yang dikeluarkan, 4 pengeluaran yang dilakukan selama proses bisnis berjalan, serta pembagian keuntungan. Ini akan mengakibatkan hancurnya sebuah usaha karena kurangnya pengetahuan akan akuntansi. Begitu juga dengan mahasiswa yang menjalankan usaha sendiri, mereka berpikir bahwa usaha yang mereka jalankan masih relatif kecil sehingga tidak perlu dilakukan pemisahan atas uang pribadi dan modal untuk usaha serta mengabaikan pencatatan atas keuangan dari bisnis yang dijalankan. Pencatatan akuntansi sangatlah penting karena informasi keuangan yang dihasilkan dari laporan keuangan bisa menjadi dasar dalam pembuatan keputusan investasi.
     Dalam menjalankan sebuah usaha, pembuatan keputusan investasi sangatlah penting, bentuk investasi yang bisa dipilih untuk kelangsungan hidup perusahaan dapat berupa investasi pada aset-aset finansial (financial assets) dan investasi pada aset-aset riil (real assets). Investasi pada aset-aset finansial dilakukan di pasar uang, misalnya berupa sertifikat deposito, commercial paper, surat berharga pasar uang, dan lainnya. Investasi dapat juga dilakukan di pasar modal, misalnya berupa saham, obligasi, waran, opsi, dan lain-lain. Investasi pada aset-aset riil dapat berbentuk pembelian aset produktif, pendirian pabrik, pembukaan pertambangan, pembukaan perkebunan dan lainnya (Abdul Halim, 2005:4). Bagi pengusaha yang masih berstatus mahasiswa membuat keputusan investasi juga sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup usaha yang dijalankan. Oleh karena itu, seorang wirausaha harus mampu untuk memahami informasi akuntansi perusahaannya agar dapat membuat suatu keputusan investasi yang tepat bagi kelangsungan hidup perusahaan.
Kajian Pustaka
Terdapat berbagai macam pendapat tentang pengertian akuntansi, Ahmed Riahi Belkaoui (2006:50) menyatakan bahwa akuntansi adalah suatu aktivitas jasa yang menyediakan informasi tentang posisi keuangan perusahaan yang berguna untuk membuat keputusan-keputusan ekonomi dalam perusahaan. Menurut Al Haryono Jusup (2005:5) akuntansi adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan,dan penanalisaan data keuangan suatu perusahaan.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan yaitu, pengujian secara parsial dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pengetahuan akuntansi (X1) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi dalam pembuatan keputusan investasi pada tingkat kepercayaan 95%. Jika seorang wirausaha memiliki pengetahuan tentang akuntansi yang baik maka wirausaha ini akan dapat menggunakan informasi akuntansi dengan baik untuk membuat keputusan investasi. Variabel jiwa kewirausahaan (X2) secara parsial juga menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi dalam pembuatan keputusan investasi pada tingkat kepercayaan 95%. Seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi cendrung akan selalu berusaha untuk mengembangkan usaha yang dimiliki dan akan menggunakan informasi akuntansi untuk melihat bagaimana perkembangan usaha yang dijalankan dan untuk membuat suatu keputusan investasi.
Saran
Berdasarkan hasil analisis penelitian dapat disampaikan saran-saran yaitu bagi para wirausahawan terutama wirausaha muda yang berstatus sebagai mahasiswa perlu memiliki pemahaman terhadap ilmu akuntansi untuk menjamin kelancaran dan keamanan perusahaan yang dirintisnya dan dapat membuat keputusan-keputusan ekonomi berdasarkan laporan keuangan atas perusahaanya yang disajikan setiap akhir periode akuntansi tertentu dan kepada para peneliti selanjutnya di bidang ini 16 disarankan agar memperluas objek penelitiannya, tidak hanya sebatas di lingkup mahasiswa.
Sumber : http://ojs.unud.ac.id/index.php/akuntansi/article/download/2025/1589

Tehnik awal memulai usaha

Pendahuluan

Banyak orang mengatakan bahwa “Ide atau gagasan” mahal harganya. Tentunya tidak sembarang ide, tetapi ide yang mempunyai nilai komersial dan ide itu ditulis dalam suatu rencana usaha atau rencana bisnis. Sebenarnya banyak orang mempunyai ide cemerlang, ide yang hebat-hebat serta mempunyai nilai komersial tinggi tetapi ide itu tetaplah hanya sekedar ide bahkan hanya sekedar impian yang numpang lewat, karena ide yang hebat tadi tidak pernah ditulis atau dikomunikasikan kepada pihak lain ataupun diimplementasikan. Tulisan ini mencoba mengupas tentang business plan, dengan harapan dapat digunakan sebagai pengetahuan ataupun menyiapkan langkah awal bagaimana untuk menggali, menumbuhkan ataupun menjaring ide-ide atau gagasan bisnis dan sekaligus menuangkannya dalam sebuah rencana usaha/bisnis.

 

 

Realita di lapangan menunjukkan bahwa banyak ide/gagasan-gagasan bisnis hebat dan ide-ide orisinil yang justru lahir dari para kawula muda. Tentunya kalau peluang atau kemampuan ini dikemas dengan baik dan mampu dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dikemas sebagai rencana usaha/bisnis yang layak dan mampu diterapkan ke dalam sebuah bisnis riil, tentunya akan banyak memberi manfaat bagi para kawula muda sendiri dan sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat dan lingkungannya. Salah satu kunci sukses memulai usaha adalah membuat sebuah perencanaan usaha/bisnis yang matang dan realistis.

 

Apapun jenis usaha yang akan kita jalankan. Tulisan ini mencoba menguraikan selangkah demi selangkah bagaimana membuat perencanaan usaha/bisnis. Perencanaan usaha/bisnis sangat berguna untuk menilai apakah usaha/bisnis yang akan kita tekuni layak, profitable dan berjangka panjang/berprospek. Dengan perencanaan usaha/bisnis yang matang, juga sangat berguna apabila kita ingin mengajak mitra bisnis, investor ataupun calon kreditor untuk merealisasi impian kita agar jadi kenyataan.
Prinsip Business Plan

Adapun prinsip-prinsip dalam perencanaan usaha itu sebagai berikut:

  • Perencanaan usaha harus dapat diterima oleh semua pihak.
  • Perencanaan usaha harus fleksibel dan realistis.
  • Perencanaan usaha harus mencakup seluruh aspek kegiatan usaha.
  • Perencanaan usaha harus merumuskan cara-cara kerja usaha yang efektif dan efisien

Kegiatan Business Plan Perencanaan usaha adalah sebuah selling document yang mengungkapkan daya tarik dan harapan sebuah bisnis kepada penyandang dana potensial. Jadi, perencanaan usaha merupakan dokumen tertulis yang disiapkan oleh seorang wirausaha yang mengembangkan dan menggambarkan semua unsur yang relevan, baik internal maupun eksternal untuk memulai suatu usaha. Di sini seorang wirausaha diharapkan mampu menggarap perencanaan usaha jangka pendek dan dapat merumuskan untuk mencapai sasaran dan tujuannya. Perencanaan usaha itu harus mencakup berbagai jenis kegiatan, di antaranya:

  • Mempelajari dan meramalkan masa depan usaha.
  • Menentukan sasaran beserta fasilitas yang diperlukan dalam usaha.
  • Membuat program kerja dan perhitungan usaha.
  • Menentukan prosedur kerja di dalam usaha.
  • Menentukan rencana anggaran usaha.
  • Membuat kebijaksanaan usaha.

Bagaimana Membuat Perencanaan Bisnis Yang Baik?

1. Perencanaan yang baik adalah sebuah proses, bukan hanya sekedar perencanaan. Perencanaan yang baik indikatornya antara lain:

  • Sederhana, perencanaan yang baik adalah perencanaan yang mudah dimengerti dan mudah dilaksanakan (mengandung kemudahan dan kepraktisan)
  • Spesifik, perencanaan yang baik adalah yang konkret, terukur, spesifik dalam waktu, personalianya dan anggarannya.
  • Realistik, perencanaan yang baik adalah perencanaan yang realistik dalam tujuan, anggaran maupun target pencapaian waktunya.
  • Komplit atau lengkap, perencanaan yang baik adalah perencanaan yang lengkap semua elemennya.
  1. Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang dapat dipergunakan untuk berbagai hal, seperti:
  • Mendefinisikan dan menetapkan tujuan
  • Menciptakan laporan bisnis secara reguler
  • Mendefinisikan bisnis-bisnis baru
  • Mensupport aplikasi pinjaman
  • Mendifinisikan berbagai perjanjian dengan partner
  • Serangkaian nilai untuk pencapaian tujuan secara legal
  • Untuk mengevaluasi masalah produk-produk, promosi maupun ekspansi

Kesimpulan

Dalam dunia praktek sehari-hari, ternyata banyak kendala yang ditemui baik dalam membuat business plan maupun implementasinya. Kendala yang sering ditemui dalam membuat business plan adalah sulitnya menemukan ide-ide yang dapat dijadikan proyek bisnis yang menguntungkan. Kendala lahirnya ide-ide kreatif yang punyai nilai ekonomis ini banyak terjadi karena kita sendiri sering kali kurang menyadari bahwa ide adalah hasil proses alam bawah sadar sehingga ide tidak akan hadir berkali-kali. Di sisi lain kita juga sering kurang peka terhadap lingkungan sekitar dan mudah menyerah ketika menghadapi tantangan, padahal ide-ide kreatif, inovatif dan bernilai ekonomis justru sering lahir dari kepekaan kita terhadap lingkungan dan kemampuan kita merubah tantangan menjadi peluang. Setelah kita mampu membuat business plan-pun seringkali tidak bisa diimplementasikan, alasan utama adalah kendala modal.

 

Kadangkala modal tidak menjadi masalah tetapi keberanian untuk memulai yang belum ada atau nyaris tidak ada. Banyak faktor yang menyebabkan semua ini terjadi, ada faktor di luar ekonomi, misalnya kultur di Indonesia yang masih menganggap profesi wirausaha sebagai profesi kurang terhormat, sehingga banyak orang tua yang lebih menginginkan anakanaknya berprofesi sebagai PNS, ABRI atau Pegawai Swasta. Faktor lain adanya anggapan bahwa berwirausaha selalu faktor modal yang utama, padahal banyak bukti pengusaha/entrepreneur sukses justru memulai usaha dari nol alias tanpa modal. Banyak entrepreneur sukses menganggap dalam memulai bisnis modal utamanya adalah ide-ide cemerlang, relasi ataupun impian-impian yang tinggi yang kadang menurut orang lain tidak masuk akal, tapi dengan sedikit kecerdikan dan keberanian mengambil risiko (ciri seorang entrepreneur) mampu melahirkan pengusahapengusaha yang handal dan sukses.

business-plan

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑